Selasa, 22 September 2015

Membuktikan Tuhan Tidak Ada, Bisakah?


            Sebelum masuk pembahasan, saya akan memulainya dengan pertanyaan ini: apakah Tuhan itu ada? Kita tidak bisa memungkiri, itu memang pertanyaan yang amat klasik. Sejak ribuan tahun sebelum masehi, ketika Ibrahim meragukan keyakinannya atas kepercayaan orang-orang di sekitarnya tentang tuhan-tuhan yang mereka buat sendiri, pertanyaan tersebut sudahlah menjadi pembahasan yang sensitif sekaligus menarik. Selain itu, meskipun toh itu dipermak sedemikian rupa dan kembali dibawa-bawa di masa kini dengan wajah yang berbeda, tetap saja pembahasan tentang tuhan adalah pembahasan yang sangat spekulatif, melangit, titik tuju yang gelap, sulit diterima oleh masyarakat pada umumnya, dan sebagainya. Namun, dalam wilayah keilmuan, itu bukan berarti tidak perlu. Dalam ranah pengetahuan, tidak ada yang salah dengan pembahasan ketuhanan. Mari kita lihat.
            Untuk mengetahui lebih tentang tuhan, di sini ada dua argument yang besar. Adalah argumen apriori dan argumen aposteriori. Pertama, itu hanya memiliki satu poin, yaitu alasan ontologis. Sedangkan kedua, itu memiliki beberapa, yaitu alasan kosmologis, teleologis, taruhan, moral, dan pengalaman keagamaan atau religion experience.

Argumen apriori (alasan ontologis)
          Argumen ini dinyana adalah berawal dari Anselmus (1033—1109). Bagi Anselmus, “tuhan” adalah istilah untuk menyebut suatu wujud PALING agung yang bisa dipahami manusia. Sedangkan sesuatu hanya bisa dikatakan PALING agung ketika dia bukan saja eksis dalam pikiran, tetapi juga eksis dalam kenyataan. Untuk itu, disebabkan konsepnya tersebut, tuhan adalah sesuatu yang memang nyata dan bukan hanya dalam pikiran. Sebab tuhan adalah PALING, tuhan itu ada.
            Mengenai ini, Imanuel Kant mengungkapkan keberatannya pada alasan Anselmus. Meskipun demikian, kata Kant, tetap saja itu adalah apriori. Artinya, walaupun Anselmus bicara bahwa disebabkan oleh sifat PALINGnya, tuhan adalah nyata, itu masih saja tidak bisa dibuktikan secara konkrit atas adanya tuhan itu sendiri. Itu hanyalah retorika Anselmus, kata Kant.

Argumen aposteriori
          Selain argumen apriori yang hanya mendasarkan pemikirannya pada permainan akal semata, dalam hal ini, ada juga argumen aposteriori. Adalah argumen yang ditarik berdasarkan pengalaman atau berangkaat dari pengalaman terlebih dahulu baru dilogikakan. Adapun alasan-alasan dalam bagian ini antara lain:
a.      Alasan kosmologis
Terkait pembuktin adanya tuhan, poin ini memiliki dua alasan cabang. Adalah apa yang disebut dengan first cause dan kontingensi. Untuk yang pertama, itu adalah alasan yang kali pertama diungkapkan Aristoteles dan kemudian dilanjutkan oleh Thomas Aquinas. Hal tersebut berangkat dari premis “sesuatu yang ada pasti ada yang menyebabkannya ada”. Selanjutnya, sebagai akibat dari premis tersebut, muncul premis baru, yaitu tidak ada sesuatu apapun yang bisa menjadi sebab atas dirinya sendiri. Kopi tidak mungkin bisa ada karena kopi itu sendiri, kiranya demikian. Selepas kedua premis di atas, ada lagi satu premis yang melengkapi: “tidak mungkin ada rangkaian sebab akibat yang tanpa akhir”. Dan akhirnya, dari ketiga premis tersebut bisa disimpulkan bahwa dalam rentetan sebab akibat yang terjadi pada alam semesta ini pasti ada sesuatu yang disebut sebagai fisrt cause yang menjadi penyebab atas semua ini dan itu sendiri tidak disebabkan. Jadi, first cause itulah yang diklaim sebagai tuhan, tuhan itu ada.
Merespon itu, jika hal tersebut kita amati lebih dalam, maka ada beberapa kerancauan dalam logika yang dipakai. Pertama: terdapat kontradiksi dalam premisnya, yaitu antara premis kedua dan keempat. Premis kedua mengatakan bahwa tidak ada satupun sebab yang tidak berasal dari luar, namun dalam premis keempat dijelaskan kalau rupanya sesuatu itu ada, yaitu yang diklaim sebagai first cause, kira-kira itu. Kedua: jika memang komposisi premisnya demikian, maka secara bersamaan, itu sama sekali tidak memungkiri adanya sebab yang lebih dari satu. Itu berarti, terdapat lebih dari satu tuhan. Ketiga: Masih dengan kompisi tersebut, secara tidak langsung, itu telah menjadikan tuhan tidak memiliki otoritas apa-apa untuk ikut campur urusan manusia, sebab dia hanyalah penyebab pertama, sedangkan manusia adalah akibat darinya yang sangat jauh ke depan.
            Adapun untuk yang kedua, kontingensi, adalah bagian yang berbicara tentang keniscayaan akan sesuatu. Dengan lain ucapan, secara prinsip, wujud dari segala sesuatu itu hanya ada dua: kalau tidak wujud “mungkin” ya wujud “pasti”. Selanjutnya, jika memang wujud “mungkin” itu ada, tidak bisa tidak, juga ada wujud “pasti” sebab kepadanya wujud “mungkin” bergantung. Dan saat wujud “pasti” itu niscaya adanya sebagai akibat dari adanya wujud “mungkin”, maka itulah tuhan. Tuhan itu ada.
            Namun, jika hal itu kembali ditinjau, masih saja ada cacat dalam logika berpikirnya. Adalah tiadanya keniscayaan atas adanya tuhan yang satu. Artinya, sesuatu yang “pasti” itu berpotensi mengarah kepada sesuatu selain tuhan. Sebab sesuatu yang sering dipakai sebagai tempat bergantung bukan hanya tuhan. Malahan, dewasa ini, kiyai-kiyai atau tokoh-tokoh tertentu lebih sering dijadikan tempat bergantung yang lebih nyaman dari pada tuhan itu sendiri. Itulah ketidakefektifannya.
b.      Alasan teleologis
Alasan ini memiliki fungsi seperti qiyas. Artinya, alasan teleologis ini berani menyimpulkan sesuatu yang tidak nampak dengan sesuatu yang nampak. Konkritnya, melalui ini, kita bisa menyimpulkan kalau tuhan itu ada sebab adanya alam semesta ini. Andai kursi ini ada sebagai hasil pikiran kreatif manusia, maka alam semesta yang jauh lebih kompleks dan indah ini jugalah ada sebagai hasil kreatifitas dari suatu perancang yang melebihi segalanya, yaitu tuhan. Oleh karenanya, bersamaan dengan keindahan serta kompleksitas alam semesta ini, tidak mungkin kalau tidak ada tuhan sebagai perancangnya.
Merespon alasan ini, David Hume amat keberatan. Suatu hal yang begitu prematur, kata Hume, saat disimpulkan bahwa alam semesta ini begitu indah. Melalui logika sederhana saja, kita tidak mungkin bisa menyimpulkan alam semesta yang maha luas ini hanya dengan pengetahuan kita terhadap bumi yang amat kecil ini. Pun, di dalam bumi, tidak semua sepakat bahwa bumi ini indah. Itu tidak lebihnya adalah hasil kesimpulan yang sama sekali subjektif. Selain itu, dari sudut pandang lain, analogi yang dipakai dalam alasan di atas itu gagal. Sebab dalam proses penyimpulannya, mereka tidak memiliki alam semesta tandingan. Itu berarti, di dalam proses penyimpulan untuk menentukan ini indah atau tidak, satu hal yang tidak boleh kita lupakan adalah komparasi. Sebagai ilustrasinya, si A ini tidak mungkin kita klaim cakep ketika tidak ada si B yang jelek. Begitu juga dengan ini, kita sama sekali tidak boleh mengklaim alam semesta ini indah kalau tidak ada alam semesta tandingan yang mungkin saja jelek. Dan kalaupun itu tetap saja dipaksakan, maka itu tidak lebihnya adalah omong kosong.
c.      Alasan Taruhan
Ini adalah argumen yang sering dipakai Pascal dalam berbicara mengenai ada tidaknya tuhan. Dengan begitu simpel, Pascal menggambarkan demikian:

Tuhan ada
Tuhan tidak ada
Beriman
Kebahagiaan abadi, tetapi sedikit susah di dunia
Sedikit rugi
Tidak beriman
Kesusahan abadi
Sedikit beruntung




d.      Alasan Moral
Selepas mengkritik argumen Anselmus, rupanya Kant usai menyiapkan argumennya sendiri terkait adanya tuhan—untuk tidak mengatakan FUNGSI adanya tuhan. Bagi Kant, tuhan itu harus ada atau ya memang ada, demi terjadinya moral. Artinya, moralitas manusia itu hanya bisa terbentuk dan terjaga ketika ada tuhan. Kenyataan bahwa dengan adanya tuhan yang akan diyakini sebagai pengontrol keabadiaan dan pembalas segala perilaku buruk manusia merupakan salah satu alasan mengapa adanya tuhan ini dikaitkan dengan terjaganya moral. Melalui adanya tuhan, manusia akan wegah untuk berbuat amoralitas sebab mereka takut kelak semua perilakunya tersebut akan dibalas oleh tuhan. Oleh karenanya, berbasis itu, tuhan itu ada.
Akan tetapi, karena itu juga adalah hasil pemikiran manusia, dalam hal ini konsep Kant tersebut sulit diterima. Sebab apa-apa yang dibicarakan Kant tentang tuhan itu bukanlah argumen untuk membuktikan ada tidaknya tuhan. Namun, itu hanyalah argumen untuk menjaga moralitas yang dibungkus oleh Kant sedemikian rupa. Atau bisa juga, kita menyebutnya sebagai argumen tentang perlunya tuhan itu ada.
e.      Alasan religion experience
Sepertinya, alasan ini lebih simpel dari alasannya Pascal. Alasan ini hanya berdasarkan pada pernyataan bahwa tuhan itu sama sekali tidak perlu untuk dibuktikan. Tuhan hanya perlu untuk dirasakan. Sesuatu yang bisa dibuktikan itu belum tentu ada dan nyata dan sesuatu yang hanya bisa dirasakan itu belum tentu juga tidak ada dan tidak nyata. Kira-kira itu.
Sebagi kelanjutannya, alasan di atas rupanya juga tidak lepas dari kritik. Adalah menyangkut posisi pengalaman keagamaan yang sangat subjektif. Akibatnya, ketika hal tersebut kita jadikan alasan, itu sama halnya kita tidak memiliki alasan. Sebab alasan yang didasarkan pada sesuatu yang sangat subjektif itu tidak bisa diverifikasi dan kalau tidak bisa diverifikasi, entahlah bagaimana kita menyebut itu.

Kiranya, itulah model-model argumen yang berbicara banyak tentang adanya tuhan. Setiap dari mereka mengemukakan argumentasinya masing-masing untuk membuktikan bahwa tuhan itu ada. Akan tetapi, di waktu yang sama, di sela-sela mereka, ada pula pihak-pihak yang tidak sependapat, mengkritiknya, dan kemudian menciptakan konsep baru. Model sedemikian ini akan selalu berlanjut dan selalu begitu. Dan yang pasti: mereka tengah dan usai membuktikan adanya tuhan, bukan membuktikan ketiadaan tuhan. Selamanya, kita tidak bisa membuktikan kalau tuhan itu tidak ada sebab apapun yang tidak ada, itu ya tidak usah dicari bukti ketiadaannya, toh memang itu tidak ada. Haha, entahlah.