Sabtu, 29 November 2014

Hermeneutika Gracia

Sekilas tentang Gracia
       Adalah Jorge J.E. Gracia. Dia dilahirkan di Kuba pada tahun 1942. Di umur yang masih muda, 23 tahun, Gracia sudah menamatkan undergraduate program B.A. dalam bidang filsafat di Wheaton College. Di tahun berikutnya, dia melanjutkan studi graduate programnya di Universitas Chicago dalam bidang yang sama. Dan masih di bidang yang sama, Gracia menyelesaikan program doktoralnya di Universitas Toronto.
          Mengetahui sejarah pendidikannya, kemampuannya dalam bidang filsafat tidak diragukan lagi. Mulai dari filsafat metafisika, historiografi filosofis, filsafat bahasa, hermeneutika, sampai filsafat Amerika Latin sudah Gracia pahami. Selain itu, Gracia juga memberikan perhatian khusus terhadap masalah-masalah nasionalisme, identitas, dan sebagainya.
          Dalam hal hermeneutika Gracia dimasukkan dalam aliran hermeneutika Objektivis Cum Subjektivis. Hal itu disebabkan oleh pemikiran Gracia sendiri yang membagi fungsi penafsiran menjadi tiga, yaitu historical function, meaning function, dan implicative function. Ketiga pembagian fungsi penafsiran tersebut bisa dijadikan alasan atas penempatan Gracia di posisi tengah karena ketiga fungsi itu mencakup kedua belah aliran. Fungsi pertama—historical function itu melahirkan pemahaman yang objektif dan fungsi yang kedua dan ketiga melahirkan pemahaman yang subjektif. Oleh karena itu, Gracia dimasukkan ke aliran Objetivis Cum Subjektivis.

Menyelami Persoalan
a.    Hermeneutika Jorge J.E. Gracia
       Sebelum memasuki pemikiran hermeneutika Gracia, ada beberapa hal yang perlu diketahui terlebih dahulu dari Gracia. Adalah tentang pandangan interpretasi bagi Gracia. Gracia mendefinisikan interpretasi sebagai kumpulan dari tiga entitas, yaitu interpreter, interpretandum, dan interpretan. Interpreter adalah seorang penafsir. Interpretandum adalah teks yang ditafsirkan secara apa adanya atau biasanya disebut sebagai terjemahan. Kemudian interpretan adalah keterangan tambahan dalam penerjemahan. Dengan demikian dari ketiga entitas di atas, bisa dipahami baha aktivitas menafsir berbefa dengan aktivitas menerjemah. Penafsiran tidak bisa tidak melibatkan interpretan, sedangkan penerjemahan cukup dengan interpreter dan interpretandum. Dalam kalimat bismilah misalnya, ketika kalimat tersebut dipahami seperti ini: dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan penyayang, maka hal itu disebut penerjemahan. Lain lagi dengan seperti ini: dengan menyebut nama Tuhan yang Yang Maha Pengasih atas seluruh umat manusia dan Maha Penyayang atas umat islam saja. Pemahaman yang kedua inilah yang disebut sebagai interpretasi sebab telah memasukkan keterangan-keterangan tambahan berupa spesifikasi kemurahan Tuhan.
          Sebagai kelanjutan atas pandangannya tentang interpretasi, dalam hermeneutikanya, Gracia banyak membicarakan tentang fungsi interpretasi. Interpretasi memiliki tiga fungsi, yaitu historical function, meaning function, mdan implicative function. Pertama, interpretasi berfungsi menciptakan kembali makna yang dikehendaki author dan yang dipahami penerima awal. Adapun metode yang dipakai untuk mengetahui makna tersebut adalah metodenya aliran objektivis sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.
Kedua, interpretasi berfungsi menciptakan makna yang sesuai dengan konteks kekinian maupun kedisinian dan itu terlepas dari apa yang sebenarnya dikehendaki author. Adapun asumsi dasar dari fungsi kedua ini adalah adanya pengembangan makna dalam beberapa kata yang ada. Sehingga tidak bisa tidak hal itu berpengaruh besar terhadap proses interpretasi. Sebagai contohnya adalah tentang konsep adil. Sebelum Islam, keadilan adalah ketika perempuan jauh di bawah lelaki—salah satu dampak dari budaya Arab ketika itu—kemudian Islam datang mengangkat perempuan hanya satu tangga di bawah lelaki—itu bisa dibutkikan dengan pembagian warisa yang menentukan bahwa perempuan hanya mendapatkan jatah setengahnya jatah lelaki—dan itulah keadilan pada masanya. Selanjutnya seiring berjalannya waktu dan meluasnya Islam serta berbeda-bedanya budaya yang telah dimasuki Islam, derajat perempuan diangkat lagi menjadi sederajat dengan lelaki sehingga hari ini dalam warisan perempuan tidak lagi mendapatkan jatah setengah dari lelaki, tetapi seimbang dengannya dan itu jugalah keadilan. Dari contoh tersebut, telah tersurat bahwa makna adil mengalami banyak pengembangan dan itulah yang disebut sebagai meaning function.
Ketiga, interpretasi berfungsi untuk mengembangkan makna secara luas dari banyak tinjauan dan sama sekali lepas dari hubungan semantik dengan historical function. Dengan kalimat lain, fungsi ketiga ini berbeda dengan fungsi yang kedua: kalau fungsi kedua mash terikat dengan semantik—bentuk pemaknaan kata berserta pengembangannya—yang ada di fungsi pertama, sedangkan fungsi ketiga sama sekali tidak terikat dengan itu. Fungsi ketiga bekerja secara lepas sesuai dengan tinjaun yang digunakan. Dalam tinjauan psikologi misalnya, hal ini berguna untuk menciptakan makna yang berhubungan dengan psikologi. Kalau dalam al-Quran, hal itu melahirkan tafsir-tafsir psikologis.
b.    Interpretasi menurut Gracia    
       Gracia membagi interpretasi menjadi dua bagian, yaitu interpretasi tekstual dan interperetasi nontekstual. Mengenai perbedaan, kedua model interpretasi tersebut sebenarnya saling terkait, namun bedanya hanya pada tujuannya masing-masing. Interpretasi tekstual adalah penafsiran terhadap teks dengan cara menambahkan keterangan-keterangan yang dirasa penting oleh penafsir ke dalam teks yang ditafsirkan untuk mendapatkan hasil-hasil tertentu terkait teks. Pendeknya, interpretasi tekstual bertujuan untuk menangap makna orisinil teks—makna yang sebenarnya dikehendaki author—dan makna yang sesuai dengan kebutuhan penafsir berbasis konteks kedisiniannya dan kekiniannya.
          Selanjutnya mengenai interpretasi nontekstual. Sebenarnya, interpretasi ini tidak bisa tidak di dasarkan pada interpretasi tekstual, namun mempunyai tujuan lain yang berbeda dengan interpretasi tekstualis. Kalau interpretasi tekstual, hal itu bertujuan untuk menguak makna teks, pengembangannya, dan implikasinya. Sedangkan kalau interpretasi nontekstual, hal itu bertujuan untuk menguak dibalik makna tekstual.
          Adapun yang dimaksud dengan dibalik makna tekstual adalah dengan melibatkan teks-teks lainnya yang berbeda pengarang, melakukan rekonstruksi konteks ketika teks dibentuk, menguak pemikiran-pemikiran yang yang sama sekali tidak dikemukakan author dalam teks, dan sebagainya. Pendeknya, interpretasi nontekstual—yang meliputi interpretasi historis, interpretasi psikologis, interpretasi filosofis, interpretasi saintifik, sastrawi, legal, inspirasional—itu bertujuan menciptakan makna yang melibatkan bukan hanya makna teks yang ditafsirkan, pengembangannya, dan implikasinya, melainkan relasi teks dengan hal-hal lainnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar