Senin, 24 Agustus 2015

Agnostisme


Sekilas
       Secara prinsip, agnotisme tidak terlalu berbeda dengan ateisme. Hanya saja, agnostisme lebih kepada epistemologi, sedangkan ateisme kepada ontologi. Agnostisme cenderung pada pertanyaan mengapa seseorang harus mempercayai Tuhan dan bagaimana seseorang harus tidak mempercayai tuhan. Adapun ateisme lebih kepada ketidakpercayaannya sendiri atas adanya tuhan, terlepas dari apa alasan yang melatarbelakanginya. Kira-kira itu.
          Istilah agnostisme berasal dari kata “gnostein” yang berarti mengetahui. Jika ditambah awalan “a” agnostein, maka itu berarti sebaliknya, yaitu tidak mengetahui. Secara umum, “agnostein” sering dipakai untuk menyebut ketidaktahuan manusia akan apapun. Dengan lain ucapan, istilah itu sama halnya dengan pernyataan bahwa sifat dasar manusia adalah tidak mengetahui apapun. Namun, dalam perkembangannya, istilah “agnostein” juga dipakai dalam kajian keagamaan. Dan di dalamnya, istilah tersebut dipahami sebagai bentuk ketidakmampuan manusia untuk memahami tuhan sama sekali. Pendek kata, dalam perkembanganya—wilayah agama—“agnostein” adalah bentuk ketidakmampuan manusia untuk mengetahui tuhan. Adapun pelopor pertama yang memasukkan istilah tersebut dalam memakainya dalam ranah agama adalah Thomas Henry Huxley.
          Meskipun demikian, secara substansional, sebenarnya istilah di atas usai dipakai beberapa abad sebelumnya. Pun, dalam dunia Islam, itu juga sudah pernah dipakai. Adalah skeptisisme Phitagoras dan teologi negatifnya Ibnu Arabi. Pertama, itu bisa terjadi karena memang agnostisme adalah bagian dari skeptisme. Dengan lain ucapan, agnostisme adalah skeptisme wajah baru atau bagian dari perkembangannya. Sedangkan kedua, itu adalah teori Ibnu Arabi yang dipakai untuk memahami tuhan dengan prinsip keragu-raguan. Dengan demikian, tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa substansi agnostisme sudahlah pernah ada.
Pembagian agostisme
Di lain sudut, pengertian agnostisme bisa ditinjau dari dua sisi, yaitu sisi epistemologi atau dari sudut pandang ilmu pengetahuan dan sisi teologis. Dalam sisi pertama, agnostisme dipahamai sebagai keterbatasan untuk memperoleh pengetahuan. Adapun di sisi kedua, itu dipahamai sebagai ketidakmampuan manusia untuk memahami tuhan.  
          Dari sudut pandang yang pertama, itu memiliki dua potensi, yaitu positif dan negatif. Positifnya, dengan agnostisme, seseorang dituntut untuk membebaskan diri dari segala batasan apapun, baik itu norma ataupun agama, dalam berpikir. Dan baru setelah itu berhasil, dia layak disebut kelompok inelektua. Pendek kata, dari sini, muncul konsep bahwa intelektual adalah mereka yang berhasil melepaskan diri dari segala bentuk batas dalam berpikir tak terkecuali agama. Selama dia masih terbatas dengan agama atau semacamnya, maka dia bukanlah intelektual. Sedangkan sisi negatifnya adalah adanya tuntutan untuk menghadirkan bukti dalam hal apapun itu dan jika tidak, maka itu sama sekali bukanlah kebenaran. Padahal di waktu yang sama: tidak semua kebenaran itu bisa dibuktikan. Dan di titik inilah, agnostisme menolak kebenaran atas adanya tuhan.

Antara agnostik dan agnostisme
        Kedua istilah di atas tidak bisa disamakan secara kasar. Agnostik berbeda dengan agnostisme. Meskipun akar katanya sama, tetapi pemahamannya berbeda. Agnostik hanyalah sebatas sikap tidak mengetahui atau sikap tidak begitu saja percaya dengan apapun. Sedangkan agnostisme sudahlah menjadi ideologi yang kaku. Artinya, selama masih agnostik, seseorang sangat mungkin untuk merubah sikapnya: yang mulanya tidak mengetahui menjadi mengetahui dan sebagainya. Namun, ketika sudah menjadi ideologi, itu sudah tidak bisa dirubah, totaliter dan kaku.
          Selanjuntnya, dalam agnostik sendiri terbagi menjadi dua, yaitu sikap percaya dan sikap menerima. Antara “percaya” dan “menerima” adalah dua hal yang tidak selalu bisa disejajarkan. Artinya ketika mendengar sesuatu, seseorang bisa saja menerima hal tersebut, tetapi tidak mempercayainya. Tidak semua yang diterima itu harus dipercayai, begitu juga sebaliknya. Itu bisa terjadi karena memang keduanya berbeda. Untuk mempercayai, seseorang membutuhkan alasan tertentu dan ini disebut sebagai mental state. Sedangkan untuk menerima, alasan tidak begitu dibutuhkan dan ini disebut sebagai mental act. Dengan demikian, seorang agnostik bisa saja menerima suatu pernyataan, tetapi tidak mempercayainya. Dia menerima adanya tuhan, tetapi tidak mempercayainya.

Jenis Agnostisisme
       Dalam wilayah teologis, agnostisme memiliki lima jenis. Adalah ateisme, teis, apatis/pragmatis, kuat, dan agnostisme lemah. Pertama adalah mereka yang tidak mempercayai tuhan tanpa alasan. Dengan lain ungkapan, mereka sama sekali tidak tahu atau tidak memiliki argument mengapa mereka tidak mempercayai tuhan. Berbalik arah dengan sebelumnya, jenis yang kedua adalah mereka yang mempercayai adanya tuhan, tetapi sama sekali tidak memiliki alasan mengepa mereka demikian. Ketiga adalah mereka yang magak atau berada di tengah-tengah antara jenis pertama dan jenis kedua. Kadang mereka mempercayai adanya tuhan dengan tanpa alasan dan kadang tidak. Adapun yang keempat, itu merupakan pemikiran yang sepenuhnya yakin bahwa tuhan itu tidak ada dan biasanya ini disertai dengan argumentasi-argumentasi.
Dan yang terakhir tidak lain merupakan mereka yang berpikir bahwa akal itu terbatas, tetapi tidak ada yang tahu bagaimana batas tersebut. Sebagaimana yang dikatakan Hegel: semakin bertumbuhnya manusia, semakin luas pula gerak batas akalnya. Pendek kata, agnostisme lemah adalah mereka yang tidak memiliki kepastian atas adanya tuhan: sekarang menolak, tetapi bisa saja besok menerima sebab telah menemukan argument, kira-kira itu. Dan sekali lagi, mereka bisa sedemikian itu sebab mereka memandang bahwa akal bergerak terbatas.

Argumen-argumen tentang Agnostisme
a.    Imanuel Kant
       Kant menyebut dirinya sendiri sebagai agnostik. Namun, dalam satu kesimpulannya, dia mengatakan bahwa seseorang harus menyisakan sedikit ruang di sekitar hatinya untuk tuhan. Adapun tujuannya, kata Kant, adalah untuk mengontrol moral. Tidak bisa tidak, jika tidak ada satu nama tersebut—tuhan—yang bersemayam dalam diri manusia, maka suatu kemustahilan moral bisa dikontrol. Dengan lain ungkapan, tuhan adalah satu hal penting yang harus ada demi terjaganya moral. 
          Selain tuhan, untuk mengontrol moral, itu juga memerlukan keabadian dan kebebasan. Kebebasan menjadi salah satu pengontrol moral sebab moral membutuhkan kesadaran. Dengan lain ungkapan, seseorang baru bisa sadar—jika tidak dikata terbiasa untuk sadar—ketika dia memiliki kebebasan. Sebagai ilustrasinya, seorang santri yang tinggal dalam lingkup pesantren ketat, selamanya dia tidak akan melakoni aktifitas kesehariannya dengan penuh kesadaran. Akan tetapi, dia hanya melakukannya agar tidak mendapatkan hukuman. Dan berbeda dengan itu adalah santri yang tinggal di pesantren longgar, bagaimanapun apapun yang dia lakukan pasti berlandaskan kesadaran. Mereka sadar karena mereka memiliki kebebasan untuk melakukan apapun yang ingin dia lakukan.
Adapun hubungan keduanya dengan moral adalah terletak pada pelampiasannya. Santri yang terkekang akan cenderung melampiaskan semua keinginannya secara liar dan tanpa memperdulikan batasan-batasan moral. Keinginan-keinginan yang sebelumnya terurungkan gara-gara peraturan pesantren merupakan salah satu alasan mengapa mereka melakukan itu. Dan berbeda sama sekali dengannya adalah santri yang longgar: mereka berpotensi lebih kecil untuk melakukan tindakan amoral karena dalam kesehariannya tidak bertemu dengan paksaan-paksaan. Oleh karena itu, tidak terlalu mengada-ada kalau kebebasan merupakan salah satu pengontrol moralitas manusia.
Selanjutnya adalah keabadian. Keabadian yang dimaksud di sini adalah tempat pembalasan. Dengan lain ungkapan, hari tempat semua perbuatan manusia akan dibalas itu bukanlah khayalan. Sehingga dengan adanya itu, manusia akan berpikir ulang untuk bertindak amoral atau menyakiti orang lain. Pendek kata, mereka enggan berbuat amoral karena takut akan dibalas di hari esok. Dan jika dikembalikan ke fungsi adanya tuhan, maka posisi tuhan adalah sebagai pihak yang mengatur keabadiaan. Dengan demikian, dengan meyakini dan memunculkan keyakinan umum atas tiga hal di atas, sangat mungkin moralitas bisa terkontrol.
b.    Positifisme logis
Prinsip positifisme logis adalah rasional dan empiris. Apapun yang tidak bisa dijangkau dengan akal dan tidak bisa dibuktikan secara nyata bukanlah suatu kebenaran. Bagi mereka, kebenaran adalah yang masuk akal dan bisa dibuktikan secara indrawi. Sebagai akibatnya, mereka sama sekali menola metafisika dan juga tuhan. Lebih pasnya, metafisika tidaklah keliru, hanya saja mempercayainya itu tidak ada gunanya, itu hanya membuat capek, dan sama sekali tidak ada untungnya. Mode pembuktian dasar positifisme logis adalah verifikasi.
c.    Falsifikasi Popper
Ini tidak terlalu berbeda dengan positifisme logis. Hanya saja, mode pembuktian yang dipakai bukanlah verifikasi, tetapi falsifikasi. Adalah pembuktian adanya kesalahan. Kalau verifikasi itu pembuktian akan benarnya sesuatu, sedangan yang ini adalah pembuktian atas adanya kesalahan dari sesuatu. Sehingga jika dikaitkan dengan metafisika, itu juga sama sekali tidak bisa dibuktikan kesalahannya. Jadi, itu bukanlah sesuatu yang harus dipercayai apalagi diperjuangkan.
d.    Falsifikasi II (Anthoni Flew)
Setelah Popper, muncul Flew dengan falsifikasi lanjutan. Pendeknya, dia menyindir cara berpikir tentang tuhan dengan kisahnya yang berjudul “The Invisible Gardener”.
e.    Falsifikasi III (Rasionalisme Kritis Hans Albert)
       Secara prinsip, ini tidak jauh berbeda dengan dua falsifikasi sebelumnya. Hanya saja, dalam mekanismenya, ini bukan sekedar falsifikasi biasa, tetapi lebih pada “prinsip dapat difalsifikasi”. Artinya tidak ada satupun kebenaran yang tidak dapat difalsifikasi. Sebagai dampaknya semua kebenaran yang sering dipandang sudah akhir, tetap saja harus difalsifikasi. Dan andai saja itu dipaksakan untuk tidak bisa difalsifikasi, maka itu hanya akan menemui “trilema”, yaitu infinite regres, lingkaran setan logis, dan dogmatisme. Infinite regres adalah keadaan tempat seseorang selalu berbelit dalam menjelaskan suatu kebenaran. Meskipun yang bersangkutan terbukti salah, tetapi masih saja dia menjelaskan bahwa dia benar dan akan selalu menjelaskan jika ditanya lagi, seakan apa yang diyakininya tidak ada salahnya. Tidak berbeda jauh dengan itu adalah terjebak dengan lingkaran setan logis. Itu hanyalah usaha seseorang untuk membela argumennya agar selalu benar. Adapun yang terakhir adalah keadaan tempat seseorang dilarang untuk bertanya dan hanya diperbolehkan untuk menerima.

          Singkatnya, pemaksaan atas tidak adanya kesalahan dalam setiap kebenaran hanya akan berakhir pada rekayasa-rekayasa yang apologetic. Dan biasanya ini selalu dipakai dalam kepetingan-kepentingan agama.