Kamis, 17 Oktober 2013

Muhammad dan Tulisannya


Kemaren, seperti biasa, berangkat dari fatwa-fatwa Bapak Muhdlir, saya berjibaku dengan pikiran saya. Bapak muhdlir dari beberapa hadist yang tidak disebutkan, membantah jika dikatakan Rosul tidak bisa membaca dan menulis. Sangat konyol sekali jika seorang pemimpin sekaliber Muhammad tidak mampu menguasai dua aspek yang sangat vital itu. selayang pikir, sungguh mengada-ada jika disimpulkan bahwa Muhammad tidak bisa membaca ataupun menulis.
Selepas itu, saya googling hadist tentang tulisan-tulisan rosul, tetapi tetap saja keganjilan saya masih tidak tergenapkan. Hadist yang diungkapkan Bapak Muhdlir tidak bisa terkover oleh mesin pencari sekaliber google. Beliau tidak memaparkan refferensi yang cukup jelas tentang alur pemikirannya.
Namun, dalam wilayah lain, saya tidak tahu kenapa, pikiran saya sepakat sekali dengan pendapat beliau. Di samping memang Muhammad adalah seorang yang luar biasa, Muhammad juga satu-satunya manusia yang menjadi objek utama dalam kajian hadist. Meminjam istilahnya Bapak Hart: tidak ada manusia lain yang paling berpengaruh selain Muhammad. Sehingga, sangat wajar jika apapun yang Muhammad lakukan sudah menjadi sesuatu yang sakral, bahkan menjadi sebuah doktrin dalam salah satu agama, islam. Semua penganut Islam, berlomba-lomba melakukan apa yang pernah Muhammad lakukan. Pun, di dalamnya dijumpai nilai-nilai yang lebih, yaitu pahala. Dan sekarang, pertanyaannya:  mengapa kita dianjurkan untuk membaca dan menulis, kalau Muhammad saja tidak pernah melakukannya. Bahkan saking dianjurkannya, membaca Quran itu mendapat pahala. Dalam ranah pikir saya, dalam kasus ini, akan terjadi ketimpangan jika Muhammad masih dipandang tidak bisa membaca dan menulis.
Paralel dengan itu, mengenai peristiwa di gua hiro’, ketika Jibril memaksa Rosul sampai tiga kali untuk membaca, saya memandangnya, itu bukanlah alasan yang tepat jika diartikan bahwa Rosul tidak bisa membaca. Di waktu yang sama, Jibril tidak mungkin membawa spidol dan papan, yang ada jibril hanya mendekte, itu berarti Jawaban Muhammad—ma ana bi qori—bukan berarti Muhammad tidak bisa membaca, tetapi memang tidak ada yang dibaca, toh tulisan pun tidak ada.

Dalam kasus kenegaraan juga. Muhammad dalam sejarahnya adalah seorang presiden yang istimewa, kehidupannya yang sederhana tidak mencerminkan tahtanya sama sekali. Namun bagaimanapun juga Muhammad masih membutuhkan sekretaris pribadi. Dan dalam hal ini, Muhammad memilih Zaid bin Tsabit. Menurut kacamata mayoritas, ini adalah salah satu bukti bahwa nabi itu mandul tulisan dan bacaan. Nabi tidak pernah membaca dan menulis. Akan tetapi jika kembali pada konteks dalam paragraf ini: ketatanegaraan, kesimpulan itu cukup buram. Apakah dengan pengangkatan Kustanto Widiatmoko sebagai sekretaris pribadi Bapak SBY, itu menunjukkan ketidakmampuan SBY untuk menulis. Tentu saja semua sepakat untuk menjawab tidak. SBY menunjuk Bapak Kustanto bukan karena SBY tidak bisa menulis, tetapi untuk mempermudah SBY memimpin negeri ini. Dan saya kira, itu adalah kasus yang sama dengan Muhammad dan Zaid. Muhammad bukan tidak bisa menulis, Muhammad hanya tidak mau menulis. Zev171013

2 komentar:

  1. saran, pung..
    spasinya ditmbah, biar lebih semangat bacanya :D

    BalasHapus
  2. Semua artikel yang saya baca mengatakan bahwa pada saat itu nabi menjawab MA ANA BI QIRI..

    Saya ingin tahu hadits tentang itu, hadits yang mengatakan bahwa nabi menjawab dengan kalimat MA ANA BI QIRI, siapa perawinya, shohih atau tidak haditsnya, apa Nabi sendiri yang bilang lalu ditulis ulang sama perawi, atau bagaimana?

    Kalau bukan nabi yang bilang (mengenai kejadian wahyu pertama itu), lalu artinya perawi hadits itu dong berarti yang bilang bahwa nabi menjawab dengan kalimat MA ANA BI QIRI tsb... bagaimana caranya? Apakah sang perawi mengintip kejadian di gua hiro atau bagaimana?

    BalasHapus