Kamis, 05 Desember 2013

Tanda Tanya


Muhammadun basyarun laka al-basyari, bal huwa ka al-yaquti baina al-hajari, boleh jadi ungkapan itu adalah salah satu basis mengapa Muhammad selaku nabi dan rasulnya Umat Islam masihlah berperilaku layaknya manusia adanya. Bahkan hal itu diakui sendiri oleh Muhammad bahwa dia hanyalah manusia seperti umat-umatnya sendiri. Sehingga hal tersebut benar-benar membuat nabi dan rasul tidak bisa luput dari kesalahan dan kelupaan juga. Akan tetapi satu hal yang perlu selalu diingat: ada sebutan pasti ada suatu kelebihan. Dan dalam hal ini, satu hal yang paling lumrah dikalangan kita mengenai para nabi dan rasul adalah keadaann mereka yang ma’sum.
Dalam banyak hal kema’suman nabi dan rasul bisa dimaklumi. Dan itu adalah hal yang wajar jika tokoh sekaliber Muhammad tidak pernah berbuat salah—dalam tanda kutip—dalam hal ucapan dan perbuatannya karena adanya satu keistimewaan tadi, ma’sum. Namun, kalau diambil dari contoh kasus, hal itu bisa berdampak sedikit berbeda. Semisalnya dalam kasus peperangan Rasulullah. Selama ini, mungkin banyak didengar bahwa dalam kebanyakan perangnya Rasul selalu berada di baris terdepan sebagai ekspresi betapa gagah dan pemberaninya beliau. Dalam satu perspektif, itu merupakan salah satu sisi kehebatan Islam dengan mempunyai Rasul sesempurna itu.

Akan tetapi dalam sisi lain, sesuatu tersebut malah menimbulkan mala pemikiran tersendiri. Dan itu tak lain adalah bersumber dari tanda tanya besar: apakah ma’sum Rasulullah mencakup terhindarnya beliau denga praktek pembunuhan dalam perang? Kemudian, apakah jika memang ma’sum beliau tidak mencapai hal tersebut, itu bisa mengurangi sosok kesempurnaan Rasulullah? Toh itu juga terjadi dalam keadaan perang, dan bukannya membela diri terhadap seseorang yang hendak membunuh kita itu juga tidaklah sebuah permasalahan dalam Islam? Seperti halnya bagaimana Abu Bakar dengan kebijakannya yang seolah keren dan berwibawa membunuh para saudara-saudara muslimnya yang tidak mau membayar zakat, entahlah. Dan dari tanya-tanya di atas, semua itu bisa diringkas menjadi satu keganjilan yang besar: Apakah salah jika Rasulullah ternyata adalah seorang pembunuh. Dan mungkin, alangkah lebih baiknya hal itu dikembalikan kepada kepercayaan masing-masing, entahlah. Zev051213

Tidak ada komentar:

Posting Komentar