Kamis, 04 Juni 2015

ATEISME


Selayang Pandang
          Adalah semacam penolakan terhadap adanya tuhan dengan tanpa dibarengi aksi provokatif.  Disebut tidak provokatif karena istilah ini sering disejajarkan dengan istilah antiteisme yang lebih provokatif. Selain istilah ateisme ada beberapa istilah lain yang terkait, yaitu nonteisme, antiteisme sebagaimana yang usai disinggung sedikit tadi, aphateisme, agnostisme, ignosticisme, antireligion, irreligion, dan secular humanism. Semua istilah tersebut memiliki titik tekan yang berbeda satu sama lain, tetapi secara umum, tetap saja, poinnya adalah menolak eksistensi tuhan.
          Pertama, itu merupakan istilah tempat seseorang tidak mempercayai sama sekali adanya tuhan. Kata “tidak mempercayai” dan “menolak” adalah dua kata yang berbeda. Kata “menolak” masih mengindikasikan adanya kepercayaan dalam hati, hanya saja, itu ditolak. Namun, kata “tidak mempercayai” sama sekali tidak mengindikasikan adanya sedikitpun kepercayaan dalam hati. Dan di waktu yang sama, di situlah letak perbedaan antara nonteisme dan ateisme. Ateisme “menolak”, sedangkan nonteisme “tidak mempercayai” atau sama sekali tanpa tuhan.
          Kedua adalah antiteisme. Pada dasarnya, ini tidaklah berbeda dengan ateisme. Hanya saja, istilah ini lebih menekankan pada wilayah provokatifnya. Sedangkan ateisme sama sekali tidak provokatif. Dengan lain ucapan, antiteisme adalah keadaan menolak tuhan dengan disertai upaya-upaya untuk mendakwahkan keadaan tersebut. Adapun ateisme hanyalah sekedar keadaan menolak tuhan tanpa sama sekali berupaya untuk mempengaruhi orang lain guna mengikutinya.
          Ketiga adalah aphateisme. Itu adalah istilah yang sering digunakan untuk menyebut ateisme praktis. Artinya, dari segi pengakuan, mereka masih mengakui adanya tuhan. Akan tetapi dari segi praksisnya, perilaku mereka sama sekali tidak mencerminkan seorang yang mengakui adanya tuhan. Pendek kata, mereka mengakui mempercayai tuhan, tetapi di waktu yang sama, mereka melakukan hal-hal yang sering dilakoni para ateis atau bahkan melebihinya. Dalam bahasa Qurannya, itu termasuk katagori munafik.
          Keempat, itu tidak berbeda jauh dengan antiteisme yang provokatif dalam menolak tuhan. Hanya saja, kelompok ini provokatifnya lebih pada epistemologinya. Dengan lain kata, mereka memiliki episteme yang kuat dalam menolak eksistensi tuhan. Dengan apapun yang tidak empiris, mereka selalu pasang aksi skeptis. Dan eksistensi tuhan sama sekali tidak empiris. Sehingga mereka selalu skeptis dengan adanya tuhan.
          Kelima: ignosticisme. Adalah jenis ateisme yang begitu terikat dengan paradigma positivesme. Segila-gilanya manusia usai membahas tuhan, berusaha mempercayai, dan lain sebagainya, tetap saja, itu adalah sia-sia. Adapun alasannya adalah eksistensi tuhan sendiri yang sama sekali tidak bisa dipandang secara positifistik, sedangkan ukuran sesuatu bisa dikatakan bermanfaat adalah ketika itu bisa dilihat secara positif. Kesimpulannya, mempercayai adanya tuhan adalah tindakan yang sia-sia.
          Selanjutnya untuk keenam dan ketujuh, keduanya itu semacam tidak menyukai agama. Artinya, mereka menolak agama, tetapi di lain sisi, mereka masih menginginkan spiritual. Dalam wilayah ini, titik tekannya adalah pada kritik terhadap agama. Bagi mereka, agama adalah satu mahkluk aneh yang tidak memiliki fungsi apapun kecuali mengganggu kebebasan manusia. Agama dipandang terlampau banyak memberikan aturan-aturan yang mengikat pemeluknya. Kira-kira itu.
          Dan yang terakhir adalah secular humanism. Jika dibandingkan dengan ateisme, istilah ini bisa dikatakan mending. Sebab dengan itu, seseorang masih mempercayai adanya tuhan. Hanya saja, mereka tidak mempercayai kalau tuhan masihlah mengurus dunia. Artinya, mereka sangat percaya kalau tuhan sudahlah pensiun atau tidak berguna. Tuhan masih ada, tetapi dia hanyalah penonton, tidak memiliki dampak apapun pada kehidupan manusia. secular humanism sangat berpotensi untuk memunculkan deisme, kemudian dari deisme ke agnostisme, dan baru ateisme.
          Ateisme memiliki beberapa cabang, yaitu jenisnya dan pembagiannya. Ateisme memiliki dua jenis: ateisme negatif dan ateisme positif. Sedangkan dalam pembagian, itu terbagi menjadi ateisme praktis dan ateisme teoritis.
          Ateisme memiliki dua jenis: negatif dan positif. Untuk jenis pertama, itu sama halnya dengan istilah ateisme itu sendiri, yaitu hanya sekedar menolak adanya tuhan dengan tanpa menunjukkan bukti apapun tentangnya. Sedangkan jenis kedua, itu disertai dengan menunjukkan bukti-bukti bahwa memang tuhan tidak ada. Dan jenis yang kedua ini tidak bukan adalah istilah lain dari antiteisme.

Ateis Praktis
          Adalah istilah lain dari aphateisme. Yaitu sesuatu yang dengannya seseorang masih mempercayai adanya tuhan, tetapi perilakunya sama sekali tidak mencerminkan kalau dia percaya dengan tuhan. Pendek kata, mereka tidak pernah mengatakan kalau dirinya ateis, tetapi di waktu yang sama, mereka juga tidak pernah melakukan apa yang harusnya dilakukan oleh seorang yang percaya.
          Adapun ciri-ciri dari ateis praktis adalah sebagai berikut:
-       Apapun yang mereka lakukan bukan berbasis dorongan agama atau motivasi agama.
-       Mereka tidak pernah berpikir terlalu dalam dank eras tentang tuhan. Sebab, pada dasarnya, mereka tidak percaya.
-       Mereka menganggap bahwa hal-hal yang supranatural atau tidak empiris adalah sesuatu yang tidak penting.
-       Dalam segala aktifitasnya, mereka selalu tidak menghadirkan tuhan.

Ateis Teoritis
          Berbeda dengan sebelumnya, ateis ini lebih berbicara kepada mengapa seseorang mempercayai tuhan. Dengan lain bahasa, ateis teoritis menjelaskan tentang argumen-argumen yang menentang tuhan. Dan dalam diskusi ini, hanya akan diuraikan empar argument besar tentang tuhan, yaitu argument epistemologis, argument metafisik, argument koherensi, dan argument antroposentris.
1.    Argument epistemologis.
Argumen yang pertama ini memuat empat teori, yaitu teori imanensi subjek, teori agnostis Imanuel Kant, teori skeptisisme David Hume, dan teori ignostisisme.  Untuk yang pertama, itu adalah argument yang mendasarkan dirinya pada kesimpulan bahwa setiap individu memiliki bayangan yang berbeda-beda tentang tuhan. Sebagai ilustrasinya, si A memandang tuhannya seperti sesosok yang besar, berjenggot, dan berjubah. Dia memproyeksikan tuhan sedemikian rupa karena dia adalah seorang muslim kelompok tradisionalis. Sedangkan si B memandang tuhannya sebagai sosok yang rapi, wangi, dan indah. Dia memproyeksikannya seperti itu sebab dia seorang muslim kelompok pembaru. Meski dalam satu atap agama, keduanya berbeda tentang konsepi terhadap Tuhan. Setiap orang tidak bisa tidak memiliki konsepsi yang berbeda-beda tentang Tuhan. Oleh karena itu, pertanyaan besarnya, yaitu: apakah masih perlu seseorang mempercayai sesuatu yang sangat tidak jelas dan berbeda-beda seperti itu. Dan kira-kira di situlah letak epistemologis penolakan mereka terhadap tuhan.
Kedua, itu adalah teori yang menganggap bahwa sampai kapanpun, agama tidak akan pernah bisa dipahami ataupun diakses oleh manusia. Sebab itu berada di luar jangkauan akal. Dan apapun yang tidak bisa terjangkau oleh akal manusia, itu berarti juga tidak bisa diakses oleh manusia. Oleh karena itu, untuk apa manusia harus mempercayai sesuatu yang dirinya saja tidak akan pernah bisa mengaksesnya.
Ketiga adalah skeptisisme David Hume. Itu merupakan teori yang memandang bahwa apapun yang boleh diterima adalah yang empiris. Agama bukanlah suatu yang empiris sehingga itu tidaklah bisa diterima. Sampai di sini, teori ini tidak berbeda jauh dengan teori sebelumnya. Namun, itu tidaklah berhenti di sini.
     Selanjutnya, kalaupun itu—penerimaan terhadap tuhan—dipaksa, maka yang ada hanyalah permainan akal manusia. Dengan lain kata, itu semacam apologi seseorang untuk memaksakan sesuatu yang sudah jelas tidak mungkin, tetapi masih saja diterobos. Sehingga yang ada bukanlah kenyataan apa adanya, tetapi hanyalah permainan pikirannya. Sesuatu yang jelas tidak mungkin tadi ibarat tuhan yang tidak bisa diakses, selanjutnya seseorang yang memaksakan di atas ibarat manusia yang memaksa akalnya untuk mengakses tuhan, sehingga yang muncul hanyalah permainan akal. Peristiwa seperti ini sering disebut sebagai teologi natural.
Masih tentang istilah, Hume menyebut realitas di atas sebagai gagasan kompleks. Itu merupakan gagasan yang sengaja dimunculkan guna menyimpelkan sesuatu yang sebenarnya sangat rumit untuk dipahami atau bahkan sama sekali tidak bisa dipahami. Dengan lain kata, itu berfungsi menjadikan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa dipahami menjadi sesuatu yang ringan untuk dipahami. Dan diterima atau tidak, pada dasarnya, seperti itulah agama. Agama hanya berisi gagasan-gagasan komplek. Sebagai ilustrasinya, konsep tentang surga yang selalu digambarkan dengan air yang mengalir dan konsep malaikat yang  sering digambarkan bersayap tidak bukan hanyalah beberapa bentuk dari gagasan kompleks dalam Islam.
     Keempat,  itu adalah teori yang orientasinya pada positifisme logis. Dalam positifisme logis, apapun yang tidak empiris dan tidak bisa diukur adalah sesuatu yang tidak bisa diterima. Tuhan merupakan salah satu entitas yang tidak empiris dan tidak juga bisa diukur. Dengan demikian, bagi pengikut teori ini, mempercayai adanya tuhan adalah suatu kebodohan. Mereka sama sekali tidak memiliki alasan yang memadai untuk mempercayai eksistensinya.
2.    Argumen Metafisik
       Sebagaimana namanya, argument ini menolak adanya tuhan dengan membenturkan dua entitas yang saling bertolak belakang, yaitu materi dan immateri. Materi tidak bukan adalah dasar atas realitas manusia. Sedangkan yang kedua, itu tidak lebih dari buat-buatan manusia. Sehingga, bisa ditarik garis simpul bahwa tuhan hanyalah buat-buatan manusia sebab posisinya yang immateri.
3.    Argumen Koherensi
Adalah argument yang menyandarkan dirinya pada kritik terhadap adanya inkonsistensi antara sifat-sifat tuhan dan inkonsistensi sifat tuhan dengan realitas yang ada. Pertama, itu bisa diamati dengan kebanyakan sifat tuhan yang tidak bisa tidak memiliki kontradiktif. Sebagai ilustrasinya adalah tuhan itu maha pengasih, tetapi di waktu yang sama, tuhan juga maha penyiksa. Antara sifat pengasih dan penyiksa adalah dua hal yang kontradiktif. Dengan demikian, tidak salah jika dikata bahwa tuhan memang sama sekali tidak konsisten.
     Kedua, itu bisa diamati dengan jelas ketika ada konflik berdarah antar sekte dalam satu agama. Artinya, andai tuhan memang konsisten dengan sifatnya yang penyayang, maka tidak mungkin dia membiarkan hambanya terlibat konflik berdarah. Akan tetapi, pada kenyataannya, konflik berdarah terus berlanjut bahkan usai terlalu lama sehingga bisa disimpulkna dengan cepat kalau memang tuhan tidaklah konsisten. Dan kira-kira, di titik inkonsistensi inilah, ateisme benar-benar menolak tuhan.

4.    Argumen Antroposentris
       Adalah argumen yang menolak adanya tuhan dengan dalih bahwa adanya tuhan itu tergantung pada manusia. Dengan lain ucapan, tuhan hanyalah ciptaan manusia. Ketika manusia ingin tuhan itu ada, maka diciptakanlah tuhan, begitu juga sebaliknya. Pendek kata, pihak yang menentukan untuk bertuhan atau tidak adalah manusia, bukan tuhan. Di sini, kunci dalam kehidupan adalah manusia.
          Di lain sisi, itu juga bisa dipahami bahwa sesungguhnya, pihak yang membutuhkan adalah tuhan, bukan manusia. Tuhanlah yang membutuhkan manusia untuk menjadikannya tuhan, bukan sebaliknya. Simpelnya, andai saja tidak ada manusia, tuhan tidak akan pernah ada. Pun, kalau misalnya manusia ada, tetapi mereka tidak mau mengakui tuhan, maka tuhan tetaplah tidak ada. Oleh karenanya, bisa disimpulkan bahwa ada tidaknya tuhan itu tergantung pada bagaimana manusia mengakuinya.

Para Pembunuh Tuhan
          Ada suatu pemikiran, ada pula yang menelorkannya. Adalah beberapa tokoh yang menggandrungkan pola berpikir tanpa batas. Selama berpikir itu masih terbatasi, maka itu bukanlah berpikir dan kira-kira itu juga berlaku untuk intelektul. Tokoh-tokoh tersebut, yaitu Feurbach, Karl Marx, Nietczhe, Freud, dan Sartre.
1.    Feurbach
       Baginya, tuhan tidak lain adalah buah pikiran manusia. Adapun postulasi feurbach adalah pandangan bahwa manusia selalu ingin berpikir secara sempurna dan menghasilkan sesuatu yang sempurna pula sampai-sampai itu melampaui dirinya sendiri. Dan salah satu dari hasilnya adalah tuhan. Dengan pikiran selalu ingin sempurna, mereka sukses menghasilkan tuhan sebagai sesuatu yang sangat sempurna sehingga mereka sendiri—selaku yang memikirkan—terlampaui dan bahkan itu ditakuti oleh mereka sendiri. Kira-kira, demikianlah apa yang dipikirkan Feurbach.
2.    Marx
      Pemikiran Marx tidak terlalu berbeda dengan Feurbach. Hanya saja, dia melanjutkan pertanyaan Feurbach, yaitu lebih pada mengapa manusia bisa memiliki keinginan untuk berpikir yang serba sempurna atau mengapa mereka selalu ingin memproyeksikan wujud tuhan. Adapun alasannya bagi Marx adalah realitas yang deskriminatif terhadap mereka. Kenyataan yang selalu tidak adil terhadap mereka berhasil membuat mereka—kalau tidak disebut memaksa—mencari tempat lain guna mendapatkan kebahagiaanya. Dan akhirnya, berpikirlah mereka tentang tuhan dan agama. Agama bagi mereka hanyalah tempat pelarian yang tidak lain adalah untuk memberikan mereka secercah harapan guna melanjutkan hidup. Namun, bagaimanapun, bagi Marx itu semua semu, itu hanya ganja yang memberikan kebahagiaan sesaat.
3.    Nietczhe
       Dibanding kedua tokoh sebelumnya, bisa dikata Nietzhe adalah yang lebih ekstrim. Baginya, tuhan harus dibunuha. Alasannya, tuhan tidak lebih dari rekayasa pikiran manusia atau manusialah yang menciptakannya. Dari segi manfaatnya, itu sama sekali tidak bermanfaat sebab tuhan hanyalah permainan akal manusia sendiri. Akan tetapi, dari segi kerugian, itu sangat merugikan manusia. Adanya tuhan hanya akan membentuk pola pikir manusia menjadi pengecut, cengeng, tidak mandiri, dan hanya akan menjadikan manusia budak. Dengan demikian, mengetahui itu, tuhan harus dibunuh, toh adanya malah menimbulkan banyak kerugian.
4.    Freud
       Freud memandang agama menjadi dua wajah, yaitu agama itu neurosis kolektif dan ilusi infantil. Pertama, itu disebabkan oleh posisi agama yang hanya berfungsi untuk memberikan ketakutan-ketakutan tertentu pada pemeluknya. Bagi Freud, ketakutan yang timbul dari pengaruh agama tersebut muncul dari super ego. Dan jika sudah demikian, maka agama hanya akan menganggu kehidupan manusia sebab efek takut yang ditumbulkan. Sebagai ilustrasinya, konsep surga yang selalu membayang-bayangi pikiran pemeluk agama tertentu sehingga dia menjadi tidak bebas dalam berpikir.
       Kedua, itu semacam sindrom anak-anak. Agama selalu dipandang bahwa dia mampu menyelematkan pemeluknya dari segala macam gangguan dan penderitaan. Akan tetapi, pada realitasnya, manusia sama sekali tidak terselamatkan dan justru terganggu. Dengan lain ucapan, ini semacam pemberian harapan palsu. Agama hanya memberikan harapan-harapan palsu. Sebagaimana anak kecil, ketika seseorang mempercayai agama, mereka hanya akan selalu dibujuk dan diberi harapan-harapan tidak jelas.
5.    Sartre

Sartre memiliki semangat yang sama dengan Nietczhe, yaitu membunuh tuhan. Hanya saja, dia lebih menekankan pada alasan eksistensi manusia. Baginya, manusia baru benar-benar bisa dikatakan manusia ketika dia sudah bisa mengatur hidupnya sebebas apa yang dia inginkan. Di waktu yang sama, selama manusia masih mempercayai tuhan, maka dia tidak akan pernah bebas. Sehingga, untuk menjadi manusia yang manusia, tuhan harus dibunuh.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar