Selasa, 29 Januari 2013

DIBALIK AWAN DAMSIK


“Who is ur god”.“Allah”.“Who is ur god”“ALLAHU ROBBI”.“BUGG, aaaaaarghhh”, desah salah satu oposisi yang mengeram menahan sakit yang luar biasa.

Satu potret kehidupan miris bangsa timur tak lebihnya bisa di ekspresikan dengan sedikit cuplikan bahasa cerpen diatas. Namun, tak ubahnya seekor kucing yang tertindas dijalan perkotaan, bangsa kita hanya berpangku tangan memandang fakta pahit 2012 ini. “Hiii tega banget ya iran sampek seperti itunya memanjakan manusia, padahal sama-sama muslimnya, tidak berperikemanusiaan blass”, orang jakarta bilang dengan sedikit meluapkan kekecewaan pada temannya. “Ya allah ikuw uwong reg, sampek koyok ngono, ikuw masjid cah, makame nabi dzulkifli, kok isokk sampek di uyohi barang”, ungkap orang-orang jawa asli. Ya, tak lebihnya hanya itulah sumbangsih kita akan penderitaan mereka-mereka di kolong langit syiria.
Lingkup lain,  bukan hanya seperti itu versi berpangku tangan yang harus kita ritualkan. Bagi kita yang tak enggan berfikir, kejadian unik nan nyata oleh kalangan muslim timur tengah ini layak untuk kita jadikan frame untuk merenungi 66 tahun indonesia merdeka. “nduh kok bisa lo”, mungkin itu pertanyaannya. Pertama, secara mudah dan praktisnya, tragedi damsik ini merupakan sebuah penjajahan oleh bangsa sendiri dimana itu tidak terlalu jauh dengan keadaan kita silam, ketika kakek nenek kita dilanda krisis apapun dan hanya bisa menerima penderitaan yang membingkai sebuah kepedihan yang luar biasa. Pun seperti itulah yang dirasa bangsa oposisi damsik. Dari situ tak cukuplah kalau kita hanya memandang perjuangan mereka saja, cobalah kita flashback pada era pra kemerdekaan, selama 360 tahun lebih bangsa ini terjajah, sudah berapa kilogram darah martir kita yang tumbang merebut tanah air ini. Dan ketika perasaan nasionalisme itu sudah terkover dihati manusia indonesia masing-masing, penulis yakin kalau versi berpangku tangan kita untuk berbagi dengan mereka akan auto-upgrade kepada sesuatu yang lebih bisa mereka rasakan. “kejadian ini adalah gambaran indonesia 1940 silam”, simpul salah satu sejarawan bangsa.
Tidak cukup demikian, berbongkah doa pun seakan tidak mampu mengurangi sedikit penderitaan mereka. Tidak akan ada sentuhan secara langsung jika hanya doa dan doa yang kita persembahkan. Disini bukan maksud penulis memandang miring akan kehebatan sebuah doa, namun alangkah lebih baiknya jika kita turut menganalisa dan berfikir, sebenarnya apa yang mereka inginkan dari kita. Apakah hanya doa? Ataukah sumbangsih tenaga maupun harta? Tampaknya bukan, toh sesuai dengan yang pernah diwartakan mereka menikmati semua itu, mereka berjuang dan bahagia. Dalam satu kacamata mereka hanya ingin berteriak kepada dunia bahwa musuh mereka selama ini bukanlah lagi dari golongan syiah yang notabenya adalah seiman dan seislam, bukan. Tapi semua darah yang tumpah meresap disetiap bumi damsik dan hembusan nafas pejuang-pejuang muslim yang mengudara dibalik awan damsik adalah perbuatan orang-orang majusi. Yang pasti tiadalah mereka selain MAJUSI”, seperti itulah syaikh Ali As-Shobunni berkoar-koar menepis semua anggukan dunia yang usai serempak mengeberikan orang-orang syiah.
Dalam kelas lain, tregedi perang syiria ini seakan adalah bentuk nyata dari isu-isu tentang kiamat yang sempat booming penghujung tahun 2012. Dan untuk menanggapi itu penulis bisa se-iya dengan pendapat itu. Sebab kala kita lebih perinci memperhatikan kejadian di damsik, kita akan menemukan gambaran-gambaran kecil kiamat yang selama ini banyak ditulis dipelbagai buku buku bacaan. Pertanyaan seperti diawal paragraf pembuka artikel ini misalnya,  bukanlah saat Dajjal kali pertama muncul membawa racun dan madu, dengan pertanyaan seperti itu. Barang siapa tidak mengakui kalau tiada TUHAN selain dajjal akan dibunuh, dan jika sebaliknya akan mendapatkan akselerasi kemerdekaan. Pers-pers dunia pun turut megekspos tragedi ironi tersebut, seolah dengan itulah suara dajjal bisa menggaung hingga sampai pada pelosok desa Kerek Tuban, memberitahukan pada dunia kalau Allah bukanlah Tuhan. Namun, mengetahui seperti itu ternyata respon dunia malah jauh dari harapan. Dunia menganggap semua itu adalah karya tangan sesame muslim di    Timur Tengah sana, nama islam tercoreng begitu hitam meliputi awan damsik, berharap ada sesosok imam Mahdi yang bisa mengubah semua derita-derita mereka.
          Sehingga disini enyahlah, tak banyak bisa dikata. Dan mungkin air mata mereka bisa katakan lebih banyak harapan dari semua pesan yang disampaikan oleh kata. Setidaknya di Tahun 2013 ini , bukan hanya spiritual dan materi saja yang kita sumbangkan kepada mereka, namun intelejensi untuk menyikapi semua itu juga perlu, minimal sebagai stimulus untuk bisa tulus memberi simpati terhadap saudara damsik kita yang saat ini terjajah jahat. Pun perlu di ketahui bukanlah sesama muslim yang se-kitab, se-hadis yang tega membumi hanguskan jiwa dan gaung mereka selaku manusia, namun seseorang yang tak manusia itulah yang berdikari sebagai DAJJAL 2013.  Untuk kita, berfikirlah dan kita berjuang…….../ ipoenk23012013
          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar