Kamis, 14 Februari 2013

SEBUAH ARTI PERHATIAN


Indah cinta yang kau berikan 
kini tiada lagi kudapatkan
teduhhya jiwa . . .
baiknya ku pergi 
tinggalkan dirimu
sejauh mungkin ,
 untuk melupakan,
dirimu yang selalu tak pedulikanku . . .

           saat lagu itu mengalun nan indah memanjakan telinga kita dan meresapi setiap katanya, pasti ada sebuah kesimpulan terpercik darinya, “Semua orang ingin diperhatikan, dan bukanlah orang kala tiada hasrat darinya untuk diperhatikan”. Tak salah memang, pakar psikologi sex sekaliber Sigmeund Fred, pun mengatakan “sex adalah puncak akan perhatian seseorang pada kekasihnya” yang kalau saya bisa mengambil kesimpulan tanpa butuhnya seseorang pada perhatian, perlu untuk diragukan kadar ke-normalannya, sebagaimana enggannya seseorang pada sex.

          Dalam alam nyata, pun saya kerap berfikir dan menjadi sebuah dialog yang hebat dalam diri saya sendiri, kala mata ini menangkap sosok-sosok pengamen disetiap bus level ekonomi jurusan sby-semarang. Yang ternyata mereka pun membutuhkan sebuah perhatian, perhatian didengar akan setiap alunan lagu yang mereka senandungkan, dan anehnya mereka lebih enjoy kala musik mereka di nikmati tanpa kita memberi mereka receh, dari pada kita beri mereka uang namun kita tinggal headsheet-an dan membiarkan mulut mereka tampak sibuk sendiri dengan nyanyiannya, kita cuek dan tenggelam dalam lagu dari mp3 kita. Cerita kecil diatas, adalah frame betapa mahal dan butuhnya setiap orang akan  nominal sebuah perhatian dari pada sekedar nominal-nominal lainnya. Pengemis pun ingin dihargai.

Dari uraian diatas sungguhlah wajar kalau perasaan “aku tak pernah dianggap” kerap muncul. Kerap saja tak apalah, namun sayangnya kata kerap tadi sering di barengi dengan “membunuh motivasi” yang finalnya pasti pada kesedihan, kegundahan dan kegelishan, serta kekhawatiran. Dan berikut inilah  curahan hati seseorang yang bisa dikatakan sangat dekat dengan saya, yang melukiskan betapa berartinya sebuah penghargaan akan kehadiran kita :
          “Aku tak mengerti, apa salahku, dan mungkin jika aku bandingkan kerjaku dengan rekan yang lain aku lebih disiplin dan aktif, namun mengapa beliau kok hanya memarahi aku dan selalu mendewakan mereka. Iya sih aku tahu mungkin aku tidak sepinter mereka dalam hal apapun, background aku pun tak selurus mereka, its fine…but kenapa sih kok mesti aku dan aku yang disalahkan. Bahkan tak jarang ku lihat rekan-rekanku, berbuat yang tak senonoh, but what happen, no action, seakan gag ada papa. Pun ketika dalam tugas pasti aku dan aku yang berada di posisi bawah, aku tak pernah dianggap oleh beliau. Ntah, kenapa kok sampai bisa seperti itu. Ya akhirnya tak taulah, aku hanya bisa membingkai rasa ini dengan senyum di depan mereka, dan dari situ aku berfikir rasa iri ini sunnguh menguasaiku kali, ini. Dan seakan mataku tertutup untuk merespon semua rasa ini. Dan aku terdiam, berhenti di perempatan jalan kesedihanku saat lampu merah didepanku terus menyala. Aku yang tak dianggap

Dalam satu pendekatan sebenarnya Bukan tanpa sebab Tuhan menghempaskan kita dari orang lain, pasti semua itu ada makna terselubung, dan hanya dengan positif thinking (berprasangka baik) kita bisa menguak makna tersebut. Toh, Tuhan pasti menyelipkan hikmah dibalik semua ciptaanya.
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
(Ali Imron-191)

“Berpikir satu jam lebih baik daripada beribadah fisik enam puluh tahun”
(HR. dari Abu Hurairah)

          Munculkanlah pelbagai kemungkinan positif dalam pikiran anda, saat sesuatu yang tidak menyenangkan datang menyapa anda. Gunakanlah konsep mungkin, “mungkin aku ditakdirkan untuk fokus pada tugas lainnya, makanya aku tak terpilih sebagai delegasi kelas dalam BM”, ya semisalnya seperti itulah. Jadi bukannya ketika anda tak dianggap adalah adalah harga mati kalau anda tidak mampu dalam hal itu, bukan. Namun itulah cara Tuhan memenuhi hak tugas-tugas yang lain biar tak terbengkalai tanpamu.
          Dan ketika tahap itu usai sudah kamu renungkan, maka bersegeralah untuk menggarap tugas yang hari ini ada didepan anda. Tidak usah memandang ke belakang tentang tugas-tugas yang gagal anda dapatkan dihari kemaren. Apa yang terjadi pada anda sekarang itulah yang terbaik buat anda. Bisa jadi walaupun tugas yang sekarang anda hadapi ini kurang linier dengan anda, ya itulah cara Tuhan mengajarimu tentang hal baru dalam diri anda. Sebab Tuhan memilih yang terbaik buat anda bukan yang terindah. Tuhan lebih kenal siapa anda dari pada anda sendiri.
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
(Al-Baqoroh ; 216)

          Dalam perspektif lain, kala anda membatin “dia kan faknya bukan kesitu, tapi kenapa tetap dia yang terpilih”, secara tersirat anda di latih untuk tidak egois. Dipungkiri atau tidak Tuhan juga ingin mengajari teman anda tadi untuk hal-hal yang baru. Bukan pada anda saja Tuhan sayang. Dan dengan seperti itulah Tuhan mengekspresikannya, masuk akal toh?.
“Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang”
(Al-Fatihah – 1)

          Dan kapanpun itu ketika seakan dunia semua  marah dan menyalahkan kamu, toh kamu juga gag sepenuhya salah. Jangan pernah anggap itu sebagai musibah tapi nikmat yang perlu disyukuri, karena percaya atau tidak, tokoh sekaliber Hugh Miller pun mengatakan, "Permasalahan adalah sebuah kesempatan yang memiliki duri”, dengan tanda kutip semua itu tak lekang dari aktifitas berfikir.
Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala".
 (Al-Mulk ; 10)

"Kesempatan itu jauh lebih banyak dari kemampuan."
(Thomas Alva Edison)

          Dan akhirnya dapat saya simpulkan, bahwa cobaan ada bukan untuk membuat kita lemah, namun untuk membuat kita lebih kuat. Allah selalu bersama hamba-hamba yang memohon pertolongan. Selalu berpikir positif terhadap segala hal yang menimpamu, maka Allah akan membalasnya dengan memudahkanmu dalam mengetahui dibalik setiap hikmah-hikmahnya. Jangan pernah katakan : “Ya Allah, aku punya masalah yang besar. Tapi katakanlah, wahai masalah, aku punya Allah yang Maha besar.
“your life is in your hands, to make of it what you choose”
(John Kehoe)

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.
(Al-Ankabut ; 69)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar